DARI DESA UNTUK NEGERI

BERSAMA MEMBANGUN NEGERI

SELAMAT HARI KARTINI

 

Pekerja Migran yang Tertahan di Malaysia Belum Peroleh Bantuan

Pak Carik 09 April 2020 10:21:23 Berita

Pekerja Migran yang Tertahan di Malaysia Belum Peroleh Bantuan [KBR|Warita Desa] Jakarta | Ratusan ribu pekerja migran asal Indonesia diperkirakan masih tertahan di Malaysia terdampak kebijakan karantina wilayah atau lockdown. Mayoritas adalah pekerja informal dan buruh yang mengandalkan pendapatan harian.  Sumarno, pekerja migran di Selangor, Malaysia menyebut pengumuman lockdown pada 18 Maret lalu terbilang mendadak. Banyak yang tidak sempat melakukan persiapan seperti menyisihkan uang dan membeli bahan makanan.  "Tidak ada pemberitahuan. Awal-awal tanggal 17 itu saya pun masih kerja, yang lain masih kerja. Tiba-tiba malamnya diinstruksikan tanggal 18 setop, tidak boleh kemana-mana. Jadi kita kalang kabut," ujar Sumarno saat dihubungi KBR, Senin (6/4/2020).  Sumarno yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan juga ikut terdampak. Beruntung, ia masih memiliki sedikit tabungan untuk bertahan hidup. Namun, banyak pekerja migran di sekitar tempat tinggalnya yang terlunta-lunta karena tidak punya simpanan uang maupun bahan pangan.  Warga Pati, Jawa Tengah ini lantas bergerak menggalang bantuan lewat komunitas pekerja migran di sana. Telepon genggamnya kini tak pernah sepi dari panggilan dan pesan singkat berisi permintaan sembako. Sumarno hanya bisa menuruti satu atau dua permintaan saja lantaran minimnya stok. "Tadi saya baru belikan barang, saya kasih kan ke orang yang tidak mampu. Ketika kawannya lihat, dia akan tanya, 'kok bisa dapat bantuan dari mana?' Akhirnya semua (bilang) 'saya pun nggak kerja' Akhirnya kotak saya penuh, orang nelpon saya, SMS, WA. 'pak minta tolong, minta tolong. Sedangkan kami pun cuma bisa membantu semampu kami. Negara tidak ,memfasilitasi," ucapnya.  Sumarno menagih bantuan yang dijanjikan pemerintah Indonesia. Sampai sekarang, tak satu pun bantuan itu mampir ke Selangor. Kini mereka mengandalkan sumbangan swadaya dan saling bantu antarpekerja migran. "Kami yang menyalurkan bantuan saja tidak tahu dari KBRI itu ada atau tidak bantuan? Cuma kemarin itu ada foto KBRI posting, dia sudah menyampaikan paket. Tapi paket itu kemana itu pun nggak tahu," tuturnya.  Alhasil para pekerja migran Indonesia di Negeri Jiran terkatung-katung. Opsi pulang ke tanah air juga tidak realitis karena hampir seluruh perlintasan ditutup. Alternatif lewat jalur laut pun tidak praktis karena memakan waktu berhari-hari untuk bisa menyeberang.  "Ada teman yang mengeluh karena untuk beli tiket saja menunggu 3 malam. Setelah dapat tiket menunggu kapal jalan bisa sampai seminggu atau dua minggu. Terus sampai di rumah kemudian juga dikarantina. Kalau ada penyakit kasihan keluarga," kata Sumarno. Sementara itu, pemerintah Indonesia mengklaim terus menggelontorkan bantuan untuk pekerja migran yang tertahan di Malaysia. Namun jumlah yang didistribusikan baru mencapai ribuan paket sembako. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah beralasan ada sejumlah kendala dalam proses pengirimannya.  "Tidak mudah melakukan distribusi sembako, perlu kerja sama dengan aparat polisi setempat. Dalam rangka mengumpulkan bahan pokok kita menghindari kesan adanya penumpukan. Kita bisa memaklumi dalam kondisi sekarang banyak terjadi penumpukan atau pembelian barang-barang," kata Teuku Faizasyah dalam telekonferensi, Rabu (1/4/2020). Anggaran penyediaan bantuan logistik tersebut untuk sementara diambil dari dana perlindungan WNI di Kementerian Luar Negeri.  Adapun jumlah riil pekerja migran yang berada di Malaysia belum diketahui secara pasti. Ini lantaran banyak pekerja yang masuk ke sana secara ilegal. Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Tatang Budi Utama Razak.  “Kalau data resmi saya dapatkan melalui perwakilan kita di Malaysia itu 740 ribu yang mendapatkan izin kerja. Tapi banyak juga pekerja migran Indonesia yang nonprosedural di Malaysia itu. Jumlahnya juga cukup signifikan. Jadi bicara yang nonprosedural ya kita nggak pernah tahu persisnya berapa, ada yang mengatakan 1-2 juta atau lebih,” kata Tatang saat dihubungi Senin (6/4/2020). Oleh : Lea Cit

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Pelayanan Online dan Konsultasi

Wilayah Desa

VIDEO

Group Facebook

 
KALIDENGEN
Public group · 1 member
Join Group
Group Desa Kalidengen
 

Fb Page

Sinergi Program

Korona Kulon Progo
DINASKOMINFO
DISNAKERTRANS
CAPIL
DPKB

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Kalender

Info Media Sosial

FacebookInstagram

Aparatur Desa

Lurah Carik Ulu-Ulu Jogobyo Panata Laksana Sarta Pangripta Kamituwa Danarta Dukuh Dukuh Dukuh Staff Desa Staff Desa