DARI DESA UNTUK NEGERI

BERSAMA MEMBANGUN NEGERI

SELAMAT HARI KARTINI

 

BNPB Akui Data Kasus Covid-19 Antara Pusat dan Daerah Tak Sinkron [KBR|Warita Desa]

Pak Carik 07 April 2020 08:58:33 Berita

BNPB Akui Data Kasus Covid-19 Antara Pusat dan Daerah Tak Sinkron [KBR|Warita Desa] Jakarta |  Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo membenarkan, bahwa data kasus Covid-19 di pusat dan daerah belum sinkron.  Agus mengatakan, saat ini Gugus Tugas tengah membangun aplikasi yang disebut "Bersatu Lawan Covid-19" untuk pengumpulan data dari seluruh rumah sakit di seluruh provinsi se-Indonesia, agar data pasien Covid-19 terintegrasi ke pusat. "Ya memang datanya enggak sinkron, karena memang belum disinkronkan. Kan kalau dilihat jumlah provinsi berapa, pusat berapa, memang belum sama. Itu lagi dikerjakan supaya bisa sinkron ke depannya," katanya saat dihubungi KBR, Senin (6/4/2020). Dilanjutkan Agus, aplikasi pelaporan data tersebut saat ini sudah berjalan, namun memang belum mencakup seluruh provinsi. "Iya, kita udah mulai sinkron tapi kan belum seluruh provinsi. Kan baru 500 rumah sakit, harusnya kan tiga ribuan," ujarnya. Agus mengatakan, secepatnya seluruh rumah sakit akan diberi edaran untuk melaporkan secara lengkap terkait perkembangan kasus Covid-19 di masing-masing rumah sakit, lalu ditransmisikan datanya ke aplikasi tersebut. Juru bicara BNPB, Agus Wibowo mengatakan, saat ini data rilis pemerintah masih mengacu data resmi dari Kementerian Kesehatan. Namun jika aplikasi sudah berjalan penuh, maka data dari aplikasi bisa dipakai sebagai acuan. "Kalau yang ini kan belum jalan 100 persen jadi kan nggak bisa diacu. Ini lebih untuk perencanaan, untuk mengambil keputusan, kirim logistik kemana, butuh apa di daerah-daerah, apa yang harus dikirim, zona mana yang bahaya, kan gitu," tuturnya. Data Kemenkes Dinilai Janggal Sebelumnya, data kasus pandemi Covid-19 yang dirilis Kementerian Kesehatan dinilai janggal. Koordinator Media Tim KawalCovid19.id Elina Ciptadi menjelaskan, meski tes swab sudah dilakukan di banyak tempat, tapi jumlah pasien positif COVID-19 perharinya hanya bertambah 100-an kasus saja. "Penambahan kasus postif setiap hari itu di angka seratusan padahal yang dites setiap hari itu bervariasi antara seratusan sampai seribu lebih. Dari sini aja kita melihat ada kejanggalan gitu. Yang dites 1000 lebih yang positif 100an, yang dites 100an yang positif 100an juga. Dan ada juga beberapa hari kita melihat penambahan jumlah yang dites itu dengan yang positif itu persis sama. Yang mengindikasikan positif rage itu 100%," herannya pada KBR, Minggu (5/4/2020). Elina menambahkan, kejanggalan lain terlihat dari ketidaksesuaian antara data Pemerintah Daerah dan Kemenkes.  Untuk itu, Kemenkes didesak lebih transparan dalam menyampaikan data-datanya. Misalnya, tentang jumlah pasien yang dites melalui uji lab dan melalui tes massal. "Sehingga publik tahu jumlah keseluruhan dan seberapa luas virus corona sudah menyebar di Indonesia," harapnya. Oleh : Astri Yuanasari Editor: Fadli Gaper 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Pelayanan Online dan Konsultasi

Wilayah Desa

VIDEO

Group Facebook

 
KALIDENGEN
Public group · 1 member
Join Group
Group Desa Kalidengen
 

Fb Page

Sinergi Program

Korona Kulon Progo
DINASKOMINFO
DISNAKERTRANS
CAPIL
DPKB

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Kalender

Info Media Sosial

FacebookInstagram

Aparatur Desa

Lurah Carik Ulu-Ulu Jogobyo Panata Laksana Sarta Pangripta Kamituwa Danarta Dukuh Dukuh Dukuh Staff Desa Staff Desa